BALIKPAPAN, – Kinerja ekspor Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami penurunan signifikan pada November 2025, tercatat turun 9,70% menjadi US$1,68 miliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi sektor perdagangan luar negeri di salah satu daerah penghasil komoditas tambang terbesar di Indonesia. Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan bahwa penurunan nilai ekspor didorong oleh kontraksi signifikan di sektor migas dan nonmigas.
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa penyebab utama penurunan ekspor tersebut adalah penurunan nilai ekspor migas yang tergerus sebesar 36,68% dan nonmigas yang turun 6,48%. Ekspor migas November 2025 hanya tercatat US$126,28 juta, jauh lebih rendah dibandingkan dengan US$199,44 juta pada Oktober 2025. Penyusutan terbesar terjadi pada ekspor gas yang turun 40,40%, mencapai US$84,05 juta, diikuti oleh hasil minyak yang merosot 27,71% menjadi US$42,23 juta.
Sementara itu, sektor nonmigas juga mengalami tekanan yang cukup berat, dengan ekspor tercatat hanya sebesar US$1,55 miliar. Golongan lemak dan minyak hewani/nabati tercatat mengalami penurunan drastis hingga 47,34%, atau setara dengan US$107,18 juta. Begitu juga dengan sektor pupuk yang mencatatkan penurunan signifikan sebesar 67,04%, dengan nilai ekspor hanya mencapai US$49,98 juta.
Namun, di tengah penurunan ini, sektor bahan bakar mineral, terutama batu bara, menjadi satu-satunya penyelamat utama ekspor nonmigas Kaltim. Ekspor batu bara tercatat meningkat 2,03%, menyumbang tambahan sebesar US$25,76 juta. Batu bara kini berkontribusi sebesar 77,61% dari total ekspor nonmigas Kaltim pada periode Januari hingga November 2025. Hal ini menunjukkan ketergantungan Kaltim yang tinggi terhadap sektor batu bara, yang terus mendominasi ekspor meskipun ada penurunan di sektor lainnya.
Dari sisi pasar tujuan ekspor, Tiongkok tetap menjadi negara tujuan utama dengan menyerap ekspor Kaltim senilai US$5,83 miliar, atau sekitar 34,31% dari total ekspor Kaltim pada periode Januari-November 2025. Menariknya, ekspor ke Tiongkok mengalami lonjakan 15,29% pada November, mencapai US$746,93 juta, yang menunjukkan adanya pemulihan permintaan dari negara tersebut, yang sebelumnya sempat terdampak oleh penurunan ekonomi global.
Selain Tiongkok, Filipina juga mencatatkan pertumbuhan yang impresif dengan kenaikan ekspor sebesar 25,26%, mencapai US$117,57 juta. Di sisi lain, ekspor ke India dan Jepang mengalami penurunan tajam. Ekspor ke India tergerus hingga 29,65%, menjadi US$183,52 juta, sementara ekspor ke Jepang menurun 15,62%, hanya tercatat sebesar US$97,54 juta.
Dari segi pelabuhan, Pelabuhan Balikpapan masih mendominasi dengan kontribusi ekspor terbesar pada November 2025, tercatat mencapai US$425,29 juta. Pelabuhan Samarinda dan Tanjung Bara mengikuti di urutan berikutnya dengan kontribusi masing-masing sebesar US$357,89 juta dan US$225,10 juta. Keberadaan pelabuhan-pelabuhan ini sebagai pintu ekspor utama menunjukkan pentingnya infrastruktur logistik dalam mendukung kegiatan perdagangan luar negeri di Kaltim.
Secara kumulatif, total ekspor Kaltim untuk periode Januari-November 2025 tercatat mencapai US$18,79 miliar, mengalami penurunan sebesar 15,53% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi indikasi adanya tantangan besar yang dihadapi oleh sektor perdagangan luar negeri Kaltim, khususnya dalam mengurangi ketergantungan terhadap sektor migas dan batu bara yang fluktuatif.
Namun, meskipun terdapat penurunan, sektor batu bara tetap menjadi pilar utama yang menopang ekspor Kaltim. Pemerintah dan pelaku industri diharapkan untuk terus mencari diversifikasi pasar dan produk ekspor agar bisa mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh ketergantungan yang tinggi terhadap batu bara.
Dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan dinamika pasar, Kaltim perlu terus berinovasi dan mengembangkan sektor nonmigas lainnya, seperti perkebunan dan industri pengolahan, guna menciptakan keberlanjutan pertumbuhan ekspor yang lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada sektor tambang.


